fajar mulai menerangi hari ini, dikala embun serasa menetes sampai ke relung jiwa yang
terdalam...sepi dan serasa tak kan ada kehidupan di pagi ini...
namun semua itu terpecah dikala surya meninggalkan peraduannya...untuk kembali memberi kehidupan di dunia ini..
tak ada kata-kata selain syukur atas nikmat-Nya atas semua ini...
aku kembali hidup setelah beberapa waktu pergi ke negeri kapuk..
banyak harapanku untuk memulai hari ini,
banyak impianku yang telah terajut dalam angan dan menanti untuk menjadi kenyataan,,,
namun kembali lagi, bahwa manusia hanya bisa bermimpi dan berharap..
tapi tak apa, bermimpi setinggi bintang itu boleh saja..itupun kata orangorang..
bahkan ada juga yang mengatakan gantungkan mimpimu di atas bintang..
trus bagaimana mengambilnya kalau digantung di bintang?? astronot aja baru samapi bulan..
bodo amat mikirin yang kaya' gitu.
lebih baik aku kini merangkai semua impianku, dan berharap agar salah satu dari impianku itu terkabul di hari ini..
ya...diantara mimpi-mimpiku adalah bertemunya aku dengan dia..
entah dia siapa akupun bingung...yang pasti dia adalah seseorang yang kelak ada bersamaku,,,
itulah satu diantara impianku dan kupanjatkan doa atas-Nya...
dan harapanku hari ini adalah..
aku ada karena "dirimu" dan diri-Nya
disini saya selaku orang yang baru saja lahir di dunia (padahal uda sejak sebelum reformasi)yang di haruskan dan di tuntut untuk bekerja dan bermain dengan yang namanya "internet" maka saya berusaha -agar tidak dikatakan "gaptek"- untuk membuat rumah saya di internet...hehehehe [ga penting banget kale ya..??]
Rabu, 14 Juli 2010
Rabu, 17 Maret 2010
aku yang ada saat ini
mungkin aku hanyalah sebuah tiang pancang yang hanya menunjuk langit,
dengan beralaskan pasir yg kering dan lembut..
mungkin saja jikala angin menghembusku, aku akan roboh..
namun aku slalu berusaha untuk tetap tegar berdiri,
meski hujan, angin slalu manyapaku..
mungkin aku hanyalah seorang bayi,
bayi yang yatim piatu..
tak pernah aku mengerti siapa yang tlah menjadikan aku ada..
aku kini sendiri,
diterpa dengan segala kesewenang-wenangan hidup..
mereka hanya berdiri, memandang, dan mencaci,
karna aku tak bisa apa-apa...
mereka tak tahu apa yang ada pada diriku..
aku hidup sendiri,
tak tahu aku harus belajar dari siapa..
orang tua pun tak aku punya,,
namun aku mencoba untuk melihat di setiap sisiku..
yang aku bisa kini baru merangkak,
dan impianku adalah
aku bisa berdiri, berjalan, dan yang terkhir adalah berlari..
namun apa daya jika aku hanya bermimpi sendiri,
yang ada hanya ketidakpastian yang berlarut..
kini,
ketika aku sedang dicaci oleh mereka
yang slalu melihat keatas,
dengan dipamerkannya dagunya yang memanjang,
yang tak tahu rumput yang sedang tumbuh dibawahnya,
aku hanya bisa tersenyum..
tersenyum dengan hati yang berteriak,
sekeras-kerasnya...
ingin rasanya jika aku sudah bisa bicara,
memakinya, mensumpah serapahinya,
dan yang terkhir adalah menguburnya..
jika pun dibolehkan untuk bicara dengan mereka,
aku akan bertanya..
mengapa mereka lari dari semuanya,
mengapa mereka berkata-kata dalam keadaan mereka seakan "berkuasa"..
muak rasanya aku mendengar, melihat, apalagi bertemu..
serasa berontak semua anggota tubuh ini atasnya...
terakhir,
tak ada orangtua pun tak apa,
asal segenap nyawa dan perangkat tubuhku berfungsi..
tak ada orangtua pun tak apa,
asal aku masih bisa belajar dari setiap apa yg bisa aku lihat...
tak ada orangtua pun tak apa,
asal langit masih menmpakkan birunya,
mimpi-mimpiku masih bisa untuk diwujudkan...
yang jelas,
TANPA ADANYA MEREKA
dengan beralaskan pasir yg kering dan lembut..
mungkin saja jikala angin menghembusku, aku akan roboh..
namun aku slalu berusaha untuk tetap tegar berdiri,
meski hujan, angin slalu manyapaku..
mungkin aku hanyalah seorang bayi,
bayi yang yatim piatu..
tak pernah aku mengerti siapa yang tlah menjadikan aku ada..
aku kini sendiri,
diterpa dengan segala kesewenang-wenangan hidup..
mereka hanya berdiri, memandang, dan mencaci,
karna aku tak bisa apa-apa...
mereka tak tahu apa yang ada pada diriku..
aku hidup sendiri,
tak tahu aku harus belajar dari siapa..
orang tua pun tak aku punya,,
namun aku mencoba untuk melihat di setiap sisiku..
yang aku bisa kini baru merangkak,
dan impianku adalah
aku bisa berdiri, berjalan, dan yang terkhir adalah berlari..
namun apa daya jika aku hanya bermimpi sendiri,
yang ada hanya ketidakpastian yang berlarut..
kini,
ketika aku sedang dicaci oleh mereka
yang slalu melihat keatas,
dengan dipamerkannya dagunya yang memanjang,
yang tak tahu rumput yang sedang tumbuh dibawahnya,
aku hanya bisa tersenyum..
tersenyum dengan hati yang berteriak,
sekeras-kerasnya...
ingin rasanya jika aku sudah bisa bicara,
memakinya, mensumpah serapahinya,
dan yang terkhir adalah menguburnya..
jika pun dibolehkan untuk bicara dengan mereka,
aku akan bertanya..
mengapa mereka lari dari semuanya,
mengapa mereka berkata-kata dalam keadaan mereka seakan "berkuasa"..
muak rasanya aku mendengar, melihat, apalagi bertemu..
serasa berontak semua anggota tubuh ini atasnya...
terakhir,
tak ada orangtua pun tak apa,
asal segenap nyawa dan perangkat tubuhku berfungsi..
tak ada orangtua pun tak apa,
asal aku masih bisa belajar dari setiap apa yg bisa aku lihat...
tak ada orangtua pun tak apa,
asal langit masih menmpakkan birunya,
mimpi-mimpiku masih bisa untuk diwujudkan...
yang jelas,
TANPA ADANYA MEREKA
Selasa, 16 Februari 2010
CINTA
oleh : Kahlil Gibran
AKU bicara perihal Cinta ????…
Apabila cinta memberi isyarat kepadamu, ikutilah dia,
Walau jalannya sukar dan curam.
Dan pabila sayapnva memelukmu menyerahlah kepadanya.
Walau pedang tersembunyi di antara ujung-ujung sayapnya bisa melukaimu.
Dan kalau dia bicara padamu percayalah padanya.
Walau suaranya bisa membuyarkan mimpi-mimpimu bagai angin utara mengobrak-abrik taman.
Karena sebagaimana cinta memahkotai engkau, demikian pula dia
kan menyalibmu.
Sebagaimana dia ada untuk pertumbuhanmu, demikian pula dia ada untuk pemanakasanmu.
Sebagaimana dia mendaki kepuncakmu dan membelai mesra ranting-rantingmu nan paling lembut yang bergetar dalam cahaya matahari.
Demikian pula dia akan menghunjam ke akarmu dan mengguncang-guncangnya di dalam cengkeraman mereka kepada kami.
Laksana ikatan-ikatan dia menghimpun engkau pada dirinya sendiri.
Dia menebah engkau hingga engkau telanjang.
Dia mengetam engkau demi membebaskan engkau dari kulit arimu.
Dia menggosok-gosokkan engkau sampai putih bersih.
Dia merembas engkau hingga kau menjadi liar;
Dan kemudian dia mengangkat engkau ke api sucinya.
Sehingga engkau bisa menjadi roti suci untuk pesta kudus Tuhan.
Semua ini akan ditunaikan padamu oleh Sang Cinta, supaya bisa kaupahami rahasia hatimu, dan di dalam pemahaman dia menjadi sekeping hati Kehidupan.
Namun pabila dalam ketakutanmu kau hanya akan mencari kedamaian dan kenikmatan cinta.Maka lebih baiklah bagimu kalau kaututupi ketelanjanganmu dan menyingkir dari lantai-penebah cinta.
Memasuki dunia tanpa musim tempat kaudapat tertawa, tapi tak seluruh gelak tawamu, dan menangis, tapi tak sehabis semua airmatamu.
Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki; Karena cinta telah cukup bagi cinta.
Pabila kau mencintai kau takkan berkata, “Tuhan ada di dalam hatiku,” tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati Tuhan”.
Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta, sebab cinta, pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.
Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya. Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan, biarlah ini menjadi aneka keinginanmu: Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali, yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.
Mengenali penderitaan dari kelembutan yang begitu jauh.
Merasa dilukai akibat pemahamanmu sendiri tenung cinta;
Dan meneteskan darah dengan ikhlas dan gembira.
Terjaga di kala fajar dengan hati seringan awan dan mensyukuri hari haru penuh cahaya kasih;
Istirah di kala siang dan merenungkan kegembiraan cinta yang meluap-luap;Kembali ke rumah di kala senja dengan rasa syukur;
Dan lalu tertidur dengan doa bagi kekasih di dalam hatimu dan sebuah gita puji pada bibirmu.
adapted from :http://puisi-gibran.blogspot.com/
Langganan:
Postingan (Atom)